Kamis, 19 September 2019

QUOTES KATA BIJAK, INSPIRASI

Sedang ingin menuliskan quotes atau kata inspirasi baik yang saya ciptakan sendiri maupun yang saya sadur dari tokoh-tokoh inspirasional. Selamat menikmati dan semoga terinspirasi.. :)
Kalau kamu ingin memiliki waktu berkualitas lakukan semua pekerjaan hari ini, jangan nanti, jangan besuk, jangan lusa!
- Muf B Irianti - *
Kalau kamu tidak bisa melakukan hal besar, lakukan saja hal kecil dengan cara sebaik-baik nya.
- Napoleon Hill - *
Setiap kita mengalami kesulitan, bagaimana cara menghadapinya akan menentukan kualitas diri kita.
- Muf B Irianti - *
Dengan kelembutan kamu akan bisa mengguncang dunia.
- Mahatma Gandhi - *
Jangan mengharapkan kebahagiaan dari seseorang yang terus-menerus mengecewakan dan menyakiti mu, berbaik hatilah pada diri sendiri dengan melangkah pergi
- Muf B Irianti -

Kamis, 18 Oktober 2018

Tempat Maem

Sudah lama tidak memberikan ulasan tentang perjalanan, bukan karena saya tidak melakukan perjalanan tapi karena tidak sempat menuliskan nya bahkan sekedar mengingatnya.. haha Itulah kenapa kali ini saya ingin memberikan ulasan saja tenang kuliner ya.. soalnya mumpung ada kesempatan menulis dan kebetulan yang diinget tentang makanan.. haha Pertama adalah Sate dan Tengkleng Mbak Harti yang beralamat di Jl. Adi Sumarmo, Klolakan, Gawanan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Warung ini menyediakan menu Tengkleng, Tongseng dan Sate tapi bukan Kambing ya.. Daging yang digunakan adalah Sapi. Tempat ini jadi favorit banget karena jarang yang menyediakan menu tersebut dengan bahan daging Sapi dengan rasa yang ajiibb nikmat. Itulah kenapa kalau ingin ke sini jangan asal waktu nya yaa nanti kecewa.. karena warung ini buka jam 10 pagi dan biasanya jam 12 siang sudah ludess.. habisss.. larisss maniss.. jadi dilihat jam nya kalau pengen coba-coba ke sini. Untuk masalah kocek, saya tidak tahu persis tentang harga nya, karena setiap kali ke tempat ini belum pernah bayar sendiri.. ada aja yang bayarin.. wkwkwk Selanjutnya yang ingin saya ulas adalah Bebek Goreng H.Slamet Asli yang beralamat di Sedahromo Lor RT 01 RW 07, Kartasuro, Kabupaten Sukoharjo. Pasti sudah banyak yang tahu kan tentang Bebek Goreng H. Slamet, cabang nya di mana-mana.. tapiiii yang satu ini adalah warung nya yang pertama kali berdiri, yang bukan frenchise nya. Saya makan di sini dalam sebulan bisa 2 sampai 3 kali karena dekat dengan kantor dan karena rasa nya legiiittt banget.. bebek nya garing dan gurih. Selain makan di tempat, saya juga sering pesan untuk keperluan kantor dalam bentuk nasi box. Harga nya kalau Paha itu Rp 27.000 kalau dada Rp28.000 sudah komplit plus nasi, sambal dan lalapan. Sayangnya ke dua warung tersebut belum pernah saya foto karena gak kepikiran bakal ditulis di sini sih.. hahaha Sementara itu dulu yaa.. semoga lain kali ada kesempatan mengulas tempat maem maupun tempat bobo.. akhir kalimat “Good Food is Good Mood” #travel #kuliner #lifeadvanture

Jumat, 22 Desember 2017

Bermalam di Makassar dan Semarang

Agustus 2017, saya berkesempatan mengunjungi Makassar dalam rangka tugas kantor. Selama empat hari saya mengginap di Hotel Grand Asia Makassar yang terletak di Panakkukang, Makassar. Berdasarkan pengalaman saya selama di sana, hotel ini memiliki menu sarapan yang cukup menarik, disediakan pula makanan khas Makassar seperti pisang epek dan Coto Makassar. Menurut saya, pelayanan cukup memuaskan tetapi tidak excellent lah.. kebetulan saat itu sedang high season karena bersamaan dengan beberapa acara tingkat nasional di Makassar. Tetapi untuk ukuran money value, hotel ini cukup baik, kebetulan kami mendapat harga yang lumyan murah dengan fasilitas yang baik. Selanjutnya, sekitar awal Oktober 2017, saya bersama suami melakukan perjalanan untuk sekedar keluar dari rutinitas. Kami memilih tujuan Semarang karena kami hanya memiliki waktu tidak lebih dari 2 hari, sehingga kami memilih yang dekat-dekat saja selain karena sudah terlalu sering kalau harus ke Yogyakarta lagi. Kami menikmati satu malam di salah satu hotel di Pusat Kota, Grandhika Hotel di jalan Pemuda Semarang. Tidak seperti hotel-hotel bernuansa klasik yang biasa kami pilih, hotel ini cukup modern dan cukup terkesan mewah. Saat itu kami memesan melalui situs online dan mendapat harga yang cukup menarik dengan fasilitas yang lengkap. Design Interior hotel cukup menarik, interior di dalam kamar pun tidak kalah menarik. Bagi saya, yang paling menyenangkan adalah menu sarapan yang sangat lengkap serta fasilitas kamar mandi yang modern. Walaupun harus merogoh kocek lumayan (walaupun sudah dapat diskon dari aplikasi online), tetapi liburan kami yang singkat tersebut cukup memuaskan terutama didukung kepuasan kami bermalam di hotel yang terletak tidak jauh dari Lawang sewu dan simpang lima ini. Demikian ulasan saya atas dua hotel yang terletak di 2 kota besar yang berbeda pulau tersebut. Semoga tidak lama lagi saya bisa menulis ulasan perjalanan.. karena artinya saya ada kesempatan jalan-jalan lagi.. haha.. :) akhir kata..
kunjungilah banyak tempat, bertemulah dengan orang-orang berbeda budaya, hingga kita paham bahwa sebenarnya kita dan mereka adalah sama.
–Mufidha, 2017- #ayukjalanjalan #travelling #hotel

Rabu, 12 April 2017

Bermalam di Jogja Part 2

Setelah sebelumnya saya mengulas tentang penginapan Jogja yang bernuansa Tradisional Jawa, sekarang saya mencoba mengulas tentang penginapan bergaya klasik pula tetapi klasik Eropa atau Barat. Seperti sebelumnya, ini juga didasarkan dari pengalaman pribadi saya. Rumah Roso Homestay, berlokasi di sekitar Alun-alun Kidul Yogyakarta ini saya kunjungi bersama suami sekitar bulan Februari 2017. Saya memesan kamar melalui situs online dengan harga yang sangat murah. Penginapan yang ber-budget backpaker ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap layaknya hotel. Hanya saja satu hal yang membuat suami saya kurang suka adalah kamar mandi yang terpisah dengan kamar tidur. Selian hal itu, semua oke dan cukup menyenangkan. Desain interior dalam kamar maupun keseluruhan penginapan sangat unik dan selfie spot banget. Selain itu, lokasinya sangat strategis berdekatan dengan pusat kota dan letak penginapan ini bisa dibilang masih di area benteng keraton sehingga, ketika malam hari suasana nya asik banget untuk jalan-jalan di sekitar situ, (sayang waktu saya ke sana pas hujan jadi gak bisa jalan-jalan malam T_T). Well.. Sekian dulu ya doakan banyak rezeki sehingga bisa kasih ulasan bobo di hotel lagi.. hehe :) #wisataindonesia #review #reviewpenginapanjogja

Senin, 21 November 2016

Bermalam di Jogja

Kali ini saya ingin mencoba untuk memberikan beberapa ulasan tentang beberapa penginapan atau hotel di Yogyakarta. Ulasan ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Sebagai pengantar, saya cenderung menyukai tempat-tempat yang tenang dan bernuansa jadul. Itulah sebabnya saya memilih tempat bermalam yang cenderung tradisional atau klasik. Pertama adalah Tembi Rumah Budaya yang terletak di Bantul. Saya stay di sana sekitar bulan Desember 2015 ketika longweekend liburan Natal. Satu kalimat yang mengambarkan hotel ini adalah 'fasilitas modern dengan nuansa tradisional yang kental'. Bangunan nya serba kayu bergaya limasan. Kebetulan saat itu saya menempati kamar yang cukup besar karena kami huni sekeluarga (6 orang). Kamar kami tepat di sebelah kolam renang, tenang dan udaranya sejuk. Pelayanan sangat ramah dan money velue banget karena kami mendapatkan makan 3x ditambah snack dan welcome drink. Saat itu kami memesan kamar atas rekomendasi situs online dan kami booking via telpon 3 minggu sebelum hari H karena kami sadar bahwa itu saat high season. Salah satu keunggulan dari penginapan ini adalah menu makanan yang ditawarkan di Cafe nya cukup bervariasi dengan harga yang standar atau cenderung murah untuk standar hotel/penginapan. Selanjutnya masih di daerah Bantul dan memiliki nama yang mirip dengan hotel di atas, yaitu Omah Tembi Homestay Kali ini saya hanya berdua bersama suami stay di sini sekitar bulan Maret 2016. Kami menempati kamar standard untuk 2 orang. Tidak seperti Tembi Rumah Budaya yang luas dan sudah banyak sentuhan modern, Omah Tembi Homestay yang memang berkonsep Homestay lebih berasa seperti bermalam di rumah nenek di desa, suasana pedesaaan sangat kental. Walaupun begitu, fasilitas seperti perlengkapan mandi dan air hangat tetap tersedia. Sementara ini dulu ya.. sebenarnya masih ada beberapa lagi tapi lain kali lagi saya akan share.. Have a nice day everyone.. #WisataIndonesia #blogjalanjalan

Minggu, 20 April 2014

Perempuan dan Pendidikan

Sekedar refleksi akan gegap gempitanya perayaan hari Kartini, seberapa jauh pemaknaan Kartini sebagai hari merenung kembali atau hanya ajang fashion show kebaya
Oke lah, mari sedikit merenung tentang pandangan masyarakat berkaitan dengan perempuan dan pendidikan
Saya dulu paling kesal kalau ada yang berkomentar “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, buat apa?!”, tapi sekarang rasanya tidak perlu naik darah menanggapi pandangan yang semacam itu. Eiiittss! bukan berarti ungkapan tersebut benar. Maksud saya, orang yang berpandangan bahwa perempuan tidak perlu mendapat pendidikan tinggi pun menurut saya punya poin menarik untuk ditelaah.. karena mungkin baginya pendidikan hanyalah sebatas media untuk mendapatkan gelar untuk melamar pekerjaan dan memperoleh penghasilan. Jadi ketika pada kenyataannya laki-laki dan perempuan memang harus membagi tugas berkaitan dengan mencari penghasilan dan mengurus rumah, maka pandangan mereka sedikit ada benarnya (pun tidak sepenuhnya benar, karena dalam mengurus rumah dan mengasuh anak, rasa-rasanya pendidikan juga akan berperan besar). Anyway.. bagi mereka yang berpandangan bahwa pendidikan bukan sekedar gelar dan penghasilan melainkan adalah upaya untuk menuntut ilmu sebagai jalan menjadi manusia seutuhnya, maka ungkapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi tidak akan pernah mungkin diutarakannya. Karena ketika tujuan dari menuntut ilmu adalah demi menjadi manusia yang lebih baik, lebih peka, lebih berpandangan luas, lebih toleran dan mampu melihat dunia dengan cara berbeda, maka baik perempuan, laki-laki, ataupun setengah2 *eh! Tidak akan ada bedannya bukan? Kembali lagi pada tujuan pendidikan untuk membangun sebuah peradaban, peradaban yang didasari budaya dan budaya yang dihasilkan dari proses “memanusiakan manusia”, maka dalam hal memperoleh pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan bukan hal yang signifikan untuk dibeda-bedakan. Karena entah laki-laki maupun perempuan sama-sama butuh bekal untuk menjadi “humanis” di masa depannya demi sebuah peradaban dan kebudayaan yang lebih baik. Jika kemudian ada kasus bahwa pendidikan tinggi justru menghasilkan manusia dengan kualitas yang jauh dari “humanis”, kemungkinan itu ada yang salah entah sistemnya atau salah tujuan si murid dari awal yang lagi-lagi hanya mencari gelar semata.

Senin, 13 Januari 2014

Kuasa Wanita Dalam Mempengaruhi Sejarah

artikel ini adalah salah satu tugas kuliah yang saya buat ketika semester satu lalu (untuk mata kuliah kapita selekta sejarah). Tanpa diduga ada teman yang mempublikasikannya melalui web
http://kampusmaya.org/2012/04/04/kuasa-wanita-dalam-mempengaruhi-sejarah/
berikut saya copas dari web tersebut :)
KUASA WANITA DALAM MEMPENGARUHI SEJARAH
Artikel berjudul “Summer Dresses and Canned Food: European Women and Western Lifestyle” di antaranya berbicara mengenai didatangkannya wanita-wanita “Totok” (wanita asli Belanda) sebagai misi untuk “memperbaiki” gaya hidup, termasuk tentang gaya berpakaian dan pola makan masyarakat Eropa di Hindia Belanda yang dirasa sudah mulai “melenceng” dari nilai-nilai etika Eropa pada sekitar tahun 1900-an. Digambarkan bahwa setelah kemunculan wanita Totok ini, maka terjadi perubahan cara berpakaian wanita-wanita Eropa di Hindia Belanda dan munculnya fenomena makanan kaleng.
Sesuatu yang menurut saya menarik adalah ketika melihat bagaimana pemerintah Belanda mempercayakan misi “memperbaiki” gaya hidup ini justru kepada wanita yang pada masa itu minim kekuatan politik. Apa yang menyebabkan hal ini dirasa akan berhasil? Banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tidak terlalu berperan dalam perubahan sosial masyarakat pada masa-masa sebelum pemikiran tentang “kesetaraan gender” berkembang. Sejarah mencatat peran wanita selalu dikaitkan dengan organisasi-organisasi pergerakan wanita. Namun, melihat bagaimana pemerintah Belanda mengirim para wanita “Totok” tersebut ke daerah koloni demi “meluruskan” kebudayaan Eropa, maka pemikiran semacam itu hendaknya perlu dipertimbangkan lagi. Keberhasilan para wanita Eropa ini (wanita totok) sebagai trend-center dan memunculkan trend baru dalam berpakaian dan pola makan, merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Meningkatnya populasi mereka di wilayah koloni, ternyata tidak bisa dilihat hanya semata-mata merupakan perubahan angka statistik saja, karena seiring dengan meningkatnya jumlah mereka, ternyata juga membawa pengaruh terhadap perubahan gaya hidup di Hindia Belanda.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa wanita pada masa itu, terutama hanya berperan pada ranah domestik dan privat sebagai pengatur rumah tangga. Biarpun bagi istri-istri penjabat kolonial mereka tidak secara langsung mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun mereka tetap yang berkuasa dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan, bagi wanita yang bekerja sekalipun, peran utama mereka sebagai ibu rumah tangga juga masih dominan (peran ganda). Selain itu, pergaulan wanita Eropa pada masa itu disebutkan pula hanya bertumpu pada status suami, dan pembicaraan seputar mereka hanya pada masalah remeh-temeh.
Menurut saya, peran wanita yang terkesan hanya terbatas dalam hal rumah tangga semacam ini, dan yang terkesan hanya mempedulikan masalah remeh-temeh seperti pakaian dan makanan, pada kenyataannya justru menjadikannya mampu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan perubahan gaya hidup masyarakat Eropa di Hindia Belanda. Wanita awalnya cenderung mempergunakan pergaulan sosial mereka tersebut untuk menekankan suatu gaya hidup kepada komunitasnya. Dari komunitas-komunitas ini kemudian menjadi semakin melebar dan meluas pengaruhnya dalam masyarakat. Seperti juga yang diungkapkan oleh Geertz bahwa dominasi wanita terjadi dalam urusan domestik, tetapi efek dominan wanita tersebut, dapat meluas ke dalam masyarakat menjadi “jaringan dominasi wanita”. Menurutnya, wanita menghubungkan kekuasaanya dengan wanita lain atau dengan orang lain yang berhubungan dengannya, sehingga jaringan itu begitu kuat dan dominasi wanita meluas hingga ke bentuk kekuasaan nyata. Bahkan Rogers juga menggungkapkan bahwa dalam hal ini, dominasi laki-laki hanya berkisar dalam tataran ideology, sedangkan dominasi wanita adalah dominasi nyata praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup.[1]
Dengan demikian, peran para wanita dalam perubahan sosial masyarakat tidak hanya bisa dilihat dari munculnya organisasi-organisasi pergerakan wanita, atau dari sosok-sosok semacam R.A Kartini, melainkan lebih jauh lagi kita bisa melihat peran wanita sebagai bagian dari “agent of change”, juga ketika dia berperan dalam ranah domestik. Artinya, kedudukan wanita yang minim dalam politik dan terkesan hanya berada “di balik layar”, tidak berarti meminimalkan peranan mereka dalam perubahan sosial masyarakat.
Dari sini, saya mencoba menyimpulkan bahwa sejarah peranan wanita, tidak melulu harus dilihat dari peranannya secara politis. Tidak pula harus dilihat dalam sejarah organisasi pergerakan wanita, atau dilihat dari tokoh-tokoh wanita yang sudah mendapatkan pendidikan. Melainkan sejarah peranan wanita juga bisa kita lihat pula dari peranan istri-istri pegawai dan pejabat kolonial, wanita-wanita pekerja rendahan, wanita-wanita pekerja rumah tangga, wanita-wanita pribumi di tingkat pedesaan dan pedalaman dan tidak menutup kemungkinan wanita-wanita simpanan, selir atau gundik. Selain itu, sejarah wanita tidak melulu mengenai perjuangannya dalam menyetarakan hak dan persamaan gender semata, melainkan bisa dilihat dari hal-hal lain pula.
Referensi:
Nordolt, Henk Schulte. Outward Appearance: Trend, Identitas dan Kepentingan. Yogyakarta: LKiS, 2005.
Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Politik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942, Jakarta: Serambi, 2007
Christina S. Handayani, Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, Yogyakarta: LKiS, 2004
Djoko, Soekiman. Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, Depok: Komunitas Bambu, 2011
[1] Christina S. Handayani, Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa (Yogyakarta, 2004). hlm.14