Senin, 13 Januari 2014

Kuasa Wanita Dalam Mempengaruhi Sejarah

artikel ini adalah salah satu tugas kuliah yang saya buat ketika semester satu lalu (untuk mata kuliah kapita selekta sejarah). Tanpa diduga ada teman yang mempublikasikannya melalui web
http://kampusmaya.org/2012/04/04/kuasa-wanita-dalam-mempengaruhi-sejarah/
berikut saya copas dari web tersebut :)
KUASA WANITA DALAM MEMPENGARUHI SEJARAH
Artikel berjudul “Summer Dresses and Canned Food: European Women and Western Lifestyle” di antaranya berbicara mengenai didatangkannya wanita-wanita “Totok” (wanita asli Belanda) sebagai misi untuk “memperbaiki” gaya hidup, termasuk tentang gaya berpakaian dan pola makan masyarakat Eropa di Hindia Belanda yang dirasa sudah mulai “melenceng” dari nilai-nilai etika Eropa pada sekitar tahun 1900-an. Digambarkan bahwa setelah kemunculan wanita Totok ini, maka terjadi perubahan cara berpakaian wanita-wanita Eropa di Hindia Belanda dan munculnya fenomena makanan kaleng.
Sesuatu yang menurut saya menarik adalah ketika melihat bagaimana pemerintah Belanda mempercayakan misi “memperbaiki” gaya hidup ini justru kepada wanita yang pada masa itu minim kekuatan politik. Apa yang menyebabkan hal ini dirasa akan berhasil? Banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tidak terlalu berperan dalam perubahan sosial masyarakat pada masa-masa sebelum pemikiran tentang “kesetaraan gender” berkembang. Sejarah mencatat peran wanita selalu dikaitkan dengan organisasi-organisasi pergerakan wanita. Namun, melihat bagaimana pemerintah Belanda mengirim para wanita “Totok” tersebut ke daerah koloni demi “meluruskan” kebudayaan Eropa, maka pemikiran semacam itu hendaknya perlu dipertimbangkan lagi. Keberhasilan para wanita Eropa ini (wanita totok) sebagai trend-center dan memunculkan trend baru dalam berpakaian dan pola makan, merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Meningkatnya populasi mereka di wilayah koloni, ternyata tidak bisa dilihat hanya semata-mata merupakan perubahan angka statistik saja, karena seiring dengan meningkatnya jumlah mereka, ternyata juga membawa pengaruh terhadap perubahan gaya hidup di Hindia Belanda.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa wanita pada masa itu, terutama hanya berperan pada ranah domestik dan privat sebagai pengatur rumah tangga. Biarpun bagi istri-istri penjabat kolonial mereka tidak secara langsung mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun mereka tetap yang berkuasa dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan, bagi wanita yang bekerja sekalipun, peran utama mereka sebagai ibu rumah tangga juga masih dominan (peran ganda). Selain itu, pergaulan wanita Eropa pada masa itu disebutkan pula hanya bertumpu pada status suami, dan pembicaraan seputar mereka hanya pada masalah remeh-temeh.
Menurut saya, peran wanita yang terkesan hanya terbatas dalam hal rumah tangga semacam ini, dan yang terkesan hanya mempedulikan masalah remeh-temeh seperti pakaian dan makanan, pada kenyataannya justru menjadikannya mampu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan perubahan gaya hidup masyarakat Eropa di Hindia Belanda. Wanita awalnya cenderung mempergunakan pergaulan sosial mereka tersebut untuk menekankan suatu gaya hidup kepada komunitasnya. Dari komunitas-komunitas ini kemudian menjadi semakin melebar dan meluas pengaruhnya dalam masyarakat. Seperti juga yang diungkapkan oleh Geertz bahwa dominasi wanita terjadi dalam urusan domestik, tetapi efek dominan wanita tersebut, dapat meluas ke dalam masyarakat menjadi “jaringan dominasi wanita”. Menurutnya, wanita menghubungkan kekuasaanya dengan wanita lain atau dengan orang lain yang berhubungan dengannya, sehingga jaringan itu begitu kuat dan dominasi wanita meluas hingga ke bentuk kekuasaan nyata. Bahkan Rogers juga menggungkapkan bahwa dalam hal ini, dominasi laki-laki hanya berkisar dalam tataran ideology, sedangkan dominasi wanita adalah dominasi nyata praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup.[1]
Dengan demikian, peran para wanita dalam perubahan sosial masyarakat tidak hanya bisa dilihat dari munculnya organisasi-organisasi pergerakan wanita, atau dari sosok-sosok semacam R.A Kartini, melainkan lebih jauh lagi kita bisa melihat peran wanita sebagai bagian dari “agent of change”, juga ketika dia berperan dalam ranah domestik. Artinya, kedudukan wanita yang minim dalam politik dan terkesan hanya berada “di balik layar”, tidak berarti meminimalkan peranan mereka dalam perubahan sosial masyarakat.
Dari sini, saya mencoba menyimpulkan bahwa sejarah peranan wanita, tidak melulu harus dilihat dari peranannya secara politis. Tidak pula harus dilihat dalam sejarah organisasi pergerakan wanita, atau dilihat dari tokoh-tokoh wanita yang sudah mendapatkan pendidikan. Melainkan sejarah peranan wanita juga bisa kita lihat pula dari peranan istri-istri pegawai dan pejabat kolonial, wanita-wanita pekerja rendahan, wanita-wanita pekerja rumah tangga, wanita-wanita pribumi di tingkat pedesaan dan pedalaman dan tidak menutup kemungkinan wanita-wanita simpanan, selir atau gundik. Selain itu, sejarah wanita tidak melulu mengenai perjuangannya dalam menyetarakan hak dan persamaan gender semata, melainkan bisa dilihat dari hal-hal lain pula.
Referensi:
Nordolt, Henk Schulte. Outward Appearance: Trend, Identitas dan Kepentingan. Yogyakarta: LKiS, 2005.
Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Politik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942, Jakarta: Serambi, 2007
Christina S. Handayani, Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, Yogyakarta: LKiS, 2004
Djoko, Soekiman. Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, Depok: Komunitas Bambu, 2011
[1] Christina S. Handayani, Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa (Yogyakarta, 2004). hlm.14

Jumat, 10 Januari 2014

keep calm and finish your thesis!!

Sekarang pukul 14:03, baru saja saya menyelesaikan satu kalimat berkaitan dengan tugas akhir saya. Sudah tiga hari ini saya hanya menghasilkan satu kalimat setiap harinya, rasanya kepala saya dipenuhi robot-robot kecil yang sedang kehabisan energi untuk bekerja lebih keras. Rasa bosan menyeruak setiap kali mata saya mencoba menjelajahi rentetan kata-kata di buku-buku referensi apalagi sumber bacaan berupa jurnal bebahasa asing. Sudah hampir 2 tahun saya mengerjakan yang ini-ini saja.. sempat saya cuti satu semester untuk mempersiapkan test IELTS beberapa bulan yang lalu. Setelah itu berlalu dan saya kembali fokus pada perkara ini, semangat baru muncul, saya berhasil menyelesaikan proposal saya dengan mulus tanpa revisi yang berarti. Namun, memasuki bab 2, saya butuh 3bulan untuk menyelesaikannya. Dan sekarang saya mengalami kebuntuan di bab selanjutnya lagi.. sungguh.. seharusnya saya tidak perlu mengeluh, karena ini pilihan yang saya ambil sendiri. Tapi, saya rasa ada saat ketika saya butuh mencurahkannya sekedar sebagai pelepas kepenatan. Semoga setelah ini kembali semangat dan segera dapat menyelesaikannya. Amin. 

Kamis, 09 Januari 2014

Mencintaimu Membuatku Semakin Dewasa

Ketika kerinduan harus ditahan dan air mata mengalir penuh kekhawatiran, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
Ketika malam berganti fajar dan siang pun tak hentinya mengejar kepenatan, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
Ketika senja betapa indahnya sedangkan gelisahku menghalangi jingganya, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
Ketika sering rasa penasaranku kau jawab dengan senyuman saja, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
Ketika harusnya kukejar mimpiku tapi berakhir aku termangu memikirkanmu, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
Ketika dewasa membuatku semakin mencintaimu, maka dengan menjadi polos seperti remaja, aku ingin terus menghidupkan cinta itu
Karena hanya ketika mencintaimu apa adanya seperti cinta para remaja, saat itulah mencintaimu membuatku semakin dewasa
-Lian-
Surakarta, 9 Januari 2014