Minggu, 20 April 2014

Perempuan dan Pendidikan

Sekedar refleksi akan gegap gempitanya perayaan hari Kartini, seberapa jauh pemaknaan Kartini sebagai hari merenung kembali atau hanya ajang fashion show kebaya
Oke lah, mari sedikit merenung tentang pandangan masyarakat berkaitan dengan perempuan dan pendidikan
Saya dulu paling kesal kalau ada yang berkomentar “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, buat apa?!”, tapi sekarang rasanya tidak perlu naik darah menanggapi pandangan yang semacam itu. Eiiittss! bukan berarti ungkapan tersebut benar. Maksud saya, orang yang berpandangan bahwa perempuan tidak perlu mendapat pendidikan tinggi pun menurut saya punya poin menarik untuk ditelaah.. karena mungkin baginya pendidikan hanyalah sebatas media untuk mendapatkan gelar untuk melamar pekerjaan dan memperoleh penghasilan. Jadi ketika pada kenyataannya laki-laki dan perempuan memang harus membagi tugas berkaitan dengan mencari penghasilan dan mengurus rumah, maka pandangan mereka sedikit ada benarnya (pun tidak sepenuhnya benar, karena dalam mengurus rumah dan mengasuh anak, rasa-rasanya pendidikan juga akan berperan besar). Anyway.. bagi mereka yang berpandangan bahwa pendidikan bukan sekedar gelar dan penghasilan melainkan adalah upaya untuk menuntut ilmu sebagai jalan menjadi manusia seutuhnya, maka ungkapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi tidak akan pernah mungkin diutarakannya. Karena ketika tujuan dari menuntut ilmu adalah demi menjadi manusia yang lebih baik, lebih peka, lebih berpandangan luas, lebih toleran dan mampu melihat dunia dengan cara berbeda, maka baik perempuan, laki-laki, ataupun setengah2 *eh! Tidak akan ada bedannya bukan? Kembali lagi pada tujuan pendidikan untuk membangun sebuah peradaban, peradaban yang didasari budaya dan budaya yang dihasilkan dari proses “memanusiakan manusia”, maka dalam hal memperoleh pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan bukan hal yang signifikan untuk dibeda-bedakan. Karena entah laki-laki maupun perempuan sama-sama butuh bekal untuk menjadi “humanis” di masa depannya demi sebuah peradaban dan kebudayaan yang lebih baik. Jika kemudian ada kasus bahwa pendidikan tinggi justru menghasilkan manusia dengan kualitas yang jauh dari “humanis”, kemungkinan itu ada yang salah entah sistemnya atau salah tujuan si murid dari awal yang lagi-lagi hanya mencari gelar semata.